He Still Think I'm The Best ♥

Aleta keluar kamar dan menuju kearah dapur, menuangkan orange jus ke dalam mug-nya. Mug favorit Galih tiap kali minum di rumahnya. Hmmm... lagi-lagi Galih, kenapa cuma Galih yg ada di kepalanya. Harusnya Aleta marah dengan lelaki yg udah dia pertahankan selama empat tahun sebagai pacarnya itu.
Siang ini, Aleta pergi ke Paprika Coffee Shop tempatnya biasa nongkrong sejak SMA. Dia dan Oky sedang sibuk men-download lagu baru , Aleta sendiri sibuk membaca majalah yg ada di depannya. Hari ini Aleta benar-benar kehilangan kesabaran dengan pacarnya itu. Udah hampir lima hari Galih sama sekali nggak menghubunginya."Lagi nggak punya pulsa kali,Ta, kamu tau kan tanggal tua.""Dia kan bisa ke rumah, apa sih susahnya.
Telepon rumah juga bisa lewat wartel, 300 rupiah doang kan, ky."Aleta menghabiskan cangkirnya yg kedua, ketika dua orang cewek super heboh datang dan duduk di meja sebelahnya."Ah, sumpah? Galih yg maen skate itu?""Ya iyalah. Aku juga nggak nyangka dia nembak aku, padahal baru seminggu kan aku kenal dia. God, he's gergous abis!"Aleta bukan tukang nguping, tapi kedua cewek heboh ini sama sekali nggak kontrol volume,dan mungkin semua orang di dalam ruangan ini bisa mendengarkan mereka ngobrol."Galih? Cowok kamu Ta yg mereka omongin?""Nama Galih kan banyak, yg maen skate dan namanya Galih bukan cuma Galih-ku aja kan."Selama ini, belum pernah Galih absen memberi kabar Aleta, pasti selalu sempat bagaimanapun keadaannya. Dan akhirnya rasa kuatir Aleta mencapai batas,dia memutuskan nekat ke kos Galih, sendirian malam itu juga.Motor Galih ada di garasi, Aleta langsung masuk dan melihat cowok yg di anggapnya spesial, yg di belanya mati-matian ketika semua keluarganya menentang hubungan mereka, sedang asik memeluk cewek itu! Darahnya rasanya berhenti mengalir, Aleta benar-benar speechless. Galih melihat pacarnya itu berdiri di depan pintu kamarnya. Dia menghampiri Aleta berusaha menjelaskan. Aleta nggak bisa mendengarkan suara Galih, pikirannya melayang kemana-mana. Cuma air mata yg Aleta bisa rasakan sedang mengalir melewati pipinya. Oky benar, ternyata cowok yg di bicarakan cewek super heboh itu memang Galih, Maharsa Galih milik Aleta."Babe, dengerin aku dulu.""Sialan kamu!" Aleta berlari keluar menerobos hujan. Yah, mungkin ini penggambaran perasaannya saat ini. Menghidupkan mobilnya dan segera berlalu dari tempat terkutuk itu. Dari spion masih bisa dilihatnya Galih berdiri di tengah jalan dan berteriak memanggil namanya.Setelah melewati malam yg menyakitkan, pagi ini Aleta bersiap-siap ke kampus. Hari ini dia ada presentasi dan Aleta nggak mau nggak lulus untuk mata kuliah yg satu ini."Ta, kamu ada masalah?" tanya Oky begitu melihat sahabatnya ini begitu pucat di kampus."Aku sakit. Tapi udah nggak apa-apa kok, Ky.""Kamu bohong ya sama aku, mata kamu itu kelihatan kalau kamu pasti habis nangis. Biar aku tabak, Galih kan?""Bener dia,Ky." Aleta menjawab dengan pandangan kosong."Bener dia gimana maksud kamu?""Galih anak skate yg di omongin sama cewek di Paprika itu, bener Galih-ku.""Kok bisa?"Aleta bercerita panjang lebar soal kejadian malam itu. Oky, sahabatnya cuma bisa mendengarkan dan mencoba menghibur Aleta. Oky memang cowok yg paling Aleta sayang setelah Papa dan Galih pastinya. Setiap ada masalah atau setiap Aleta butuh bantuan, Oky selalu ada untuk Aleta. Dulu Galih sering cemburu, tapi Aleta selalu meyakinkan kalau dia dan Oky murni sahabat tanpa ada perasaan "macam itu".Aleta menuju parkiran, sore ini dia ingin menghabiskan waktu dirumah. Begitu Aleta menuju mobil, yg dilihatnya Galih udah berdiri di sebelah mobilnya."Babe, please dengerin aku dong.""I'm not your Babe anymore!! Udahlah, Lih, kamu mau jelasin yg gimana lagi? Mau bilang itu semua khilaf? Basi!""Sorry babe. Tapi sumpah kemarin itu bukan seperti yg kamu pikirin.""Dengerin aku baik-baik ya Maharsa Galih, aku bukan bayi yg bisa kamu begoin kayak gitu. Aku tahu kamu jadian sama dia setelah seminggu kamu kenal dia. Iya kan? Jadi itu alasan kamu berubah sikap sama aku seminggu ini? Karena dia?""Babe, aku taruhan sama Aldy kalau buat yg satu itu, makanya kasih aku kesempatan buat njelasin.""Jangan panggil aku Babe lagi, ngerti nggak sih kamu? Pokoknya apapun alasan kamu, dimataku kamu udah nol, Lih."Aleta masuk mobil, meninggalkan Galih yg masih berdiri menatapnya pergi. Sepanjang jalan, Narita Aleta Wandari menitikkan air mata. Rasanya dia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Emosinya yg meluap-luap membuatnya melajukan mobil tanpa kendali. Aleta nggak tahu di depannya ada motor yg akan menyeberang, dan tiba-tiba semuanya samar.Begitu bangun, Aleta melihat keadaan sekitarnya berputar-putar,kepalanya pusing. Dilihatnya ada Mama, Papa, Dito dan Oky di sebelahnya. Mama begitu senang melihat anak gadisnya siuman. Aleta langsung mendapatkan hujan ciuman dari Mama. Papa langsung pergi ke ruang dokter."syukur Ta, kamu akhirnya sadar. Pusing ya?""Iya, Ky, tapi kakiku kok kayaknya aneh."Mama langsung berubah ekspresi, Dito, adiknya langsung memeluk mama, dan benar dalam hitungan detik, air mata mama buyar. Aleta merasa linglung karena dia sama sekali nggak tahu apa yg terjadi, hingga matanya menuju pada satu fokus, kakinya. Aleta benar-benar merasa hancur seketika."Kakiku!!!" tangisnya pecah, Oky berusaha menenangkan Aleta, memeluknya erat. Aleta seperti kesurupan, berteriak, menangis, tertawa secara bersamaan.Setelah dokter dan papa datang, semua orang di ruang itu diam, hanya sesekali terdengar isak tangis dari mama atau teriakan marah dari Aleta. Dokter menjelaskan semua yg terjadi pada Aleta. Awalnya memang terasa sangat berat buat gadis 20 tahun ini buat menerima kenyataan bahwa kaki kirinya harus diamputasi. Sedang orang yg di tabrak Aleta, sedang menjalani operasi karena patah tulang. Aleta merasa tuhan nggak adil, kenapa dia yg harus menerima cobaan macam ini."Tuhan masih sayang kamu. Buktinya kamu masih bisa bernafas sampai sekarang.""Kamu bisa ngomong kayak gitu karena kamu nggak ngerasain jadi aku, Ky! Cewek 20 tahun yg cacat seumur hidup! Bisa kamu bayangin nggak?" Nada bicaranya benar-benar tinggi."Ok ok, tapi kamu tenangin diri kamu dulu."Udah hampir dua minggu Aleta menginap di rumah sakit, Galih, orang yg secara langsung Aleta harapkan untuk datang menjenguk, nggak terlihat sama sekali batang hidungnya.Tapi minggu malam, pintu kamarnya di ketuk, dari kaca Aleta udah bisa melihat siapa yg datang,Galih. Galih terkejut dengan pemandangan yg ada di depannya, Aleta tersenyum kecut melihat ekspresi spontan dari Galih."Kasian ya kamu lihat aku?""Nggak kok, Ta. Tapi aku kaget aja liat apa yg terjadi sama kamu."Malam itu Aleta benar-benar menghabiskan waktu bersama Galih. Mungkin mereka bukan pacar lagi, tapi hanya dengan Galih, Aleta bisa bercerita panjang lebar penuh tawa, menceritakan semua kejadian yg menimpanya tanpa merasa sedih ataupun marah.Dua hari setelah Galih menjenguknya, hari ini, hari terakhir Aleta di rumah sakit. Siap nggak siap, Aleta harus berani keluar dari dunia yg selama hampir 3 minggu ini membelenggunya. Barang-barang udah di pindah ke mobil semua, tinggal menunggu Aleta bersiap-siap.Suara kursi roda terdengar dari balik kamar, pintu terbuka dan Aleta pun siap pulang. Papa mendorong kursi roda Aleta, mama berjalan di sebelahnya, Dito dan Oky di belakangnya. Sesak rasanya mendapati dirinya harus minta bantuan orang lain untuk melakukan sesuatu seperti sekarang ini. Sesampainya di parkiran, Galih udah menunggunya, membawa bucket bunga favoritnya. Perlahan Galih mendekati Arleta, kemudian jongkok di depan Aleta."Especially for you." Galih menyodorkan bucket bunga, selembar kertas, sebuah kaset rekaman, dan foto mereka berdua dulu.Aleta menitikkan air mata, bahagia karena Galih-nya telah kembali, tapi hati kecilnya masih belum bisa memaafkan semua kesalahan Galih yg membuatnya kini ketakutan dengan kata "selingkuh".Begitu sampai di rumah, hal yg Aleta lakukan adalah memutar kaset rekaman dari Galih."Babe, aku tau kamu nggak bakal dengerin aku kalau kita ketemu. Let me explain Babe. Itu semua nggak seperti yg kamu pikirkan. Waktu itu, aku habis mandi, dan si Uci nggak tahu darimana datangnya udah ada di kamar aku gitu aja. Katanya anak-anak, Tejo yg kasih dia ijin masuk kamarku soalnya dia datang dalam keadaan nangis gitu. Ok, aku memang salah karena nggak seharusnya aku meluk dia gitu, tapi aku cowok babe, masa iya aku diam aja liat cewek nangis kayak gitu. Aku harap kamu ngerti maksudku.Dan soal taruhan itu, aku cuma bisa bilang, maaf babe, karena aku ikutan Aldy taruhan buat deketin Uci dan pura-pura pacaran dengan dia. Aku salah babe. Ini memang hal bodoh yg pernah aku lakukan selama kita pacaran.Aku cuma mau bilang, bagaimanapun kondisi kamu dulu atau sekarang kamu masih my lovely babe. You have to trust me, LOVE you babe."Oky yg menemaninya mendengarkan rekaman itu langsung memeluk Aleta. Oky tahu sahabatnya yg satu ini, nggak akan tahan dengan hal-hal macam itu. Oky tahu sahabatnya itu masih begitu mencintai Galih."Aku udah minta kejelasan ke Galih, Ta. Aku juga udah diajak ketemuan sama Aldy dan Uci. Dan Galih memang nggak pernah niat selingkuh," kata Oky.Aleta memandang sahabatnya itu, senyumnya mengembang, segera Aleta mengarahkan kursi rodanya ke ruang tengah. Mengambil gagang telepon."Sayang, sorry ya aku nggak mau denger penjelasan kamu. Aku udah denger kasetnya.""Nggak apa-apa babe. Nanti malem mau makan apa? Aku beliin pancake kesukaan kamu ya?" Suara Galih terasa begitu tenang, seperti nggak pernah terjadi apapun diantara mereka."Mauuuuu, makasih ya sayang. Love you Galih." Aleta meletakkan kembali gagang teleponnya. Perasaannya benar-benar bahagia, terharu. Galihnya kembali, Galih yg perhatian , yg mengerti Aleta.Sekarang Aleta yakin apa yg dia pertahankan selama empat tahun itu nggak sia-sia. Walaupun sekarang Narita Aleta Wandari nggak sempurna seperti dulu, tapi Aleta yakin kalau dia tetap sempurna di mata Mahersa Galih-nya.:)

Sumber : majalah Olga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini